Pendidikan Transformatif

Saya senang melihat inisiatif perempuan Ekonomi Syariah IAIN Metro angkatan 2016 untuk belajar skill digital yaitu desain grafis. Bahkan ada beberapa yang ingin memulai belajar menulis. Tentu bisa bertambah lagi, dengan belajar skill-skill lainnya. Ini yang saya sebut pendidikan transformatif. Inti pendidikan terletak pada usaha mendekatkan pendidikan untuk tidak membangun jarak dengan realitas.

Perubahan sosial adalah tujuan penting dalam pendidikan transformatif. Sebagai calon sarjana mereka harus mulai menyadari bahwa pembelajaran kelas saja tidak cukup. Contoh sarjana apapun, wajib memahami ilmu markating dan manajemen. Karena ilmu itu yang membebaskan diri dari bekerja dengan orang lain kemudian mengubah mereka jadi pribadi preneurship.

Tadi siang saya juga melihat mereka belajar bahasa inggris di Payungi. Kesadaran ini tentu tidak dimiliki semua mahasiswa. Apa yang diajarkan dalam kurikulum tentu baik, tapi yakinlah tidak cukup menjawab tantangan zaman, tanpa praktik-praktik sosial. Apalagi pendidikan era digital hari ini sudah menjawab apa yang akan dibutuhkan untuk meraih pengetahuan.

Kalau hanya soal pengetahuan semua sudah ada di aplikasi digital. Tapi jika ingin merasakan spiritual, akhlak, adab dan kepekaan sosial, ruang kelas tidak akan bisa total mencapaianya. Jadi tidak heran banyak pengangguran terdidik, karena jadi sarjana tapi rendah skill.

Ekonomi Syariah angkatan 2016 tentu sudah tidak banyak mata kuliah. Mereka mulai fokus merencanakan judul skripsi dan fokus pada penyelesaian. Ruang kelas mungkin sudah sangat bosan bagi mereka, meskipun kelak mereka pasti akan merindukan. Sebagai Kaprodi Ekonomi Syariah saya berpesan pada angkatan ini. Tetaplah bergerak, belajar dan melakukan praktik sosial semampunya dan sekuatnya. Jadilah pembelajar progresif karena tidak ada kata terlambat.

Dharma Setyawan

Translate ยป